Logo
images

Tanaman petai (Parkia speciosa). Foto: wikimedia.org

Tanaman Petai, Dibalik Baunya Terkandung Manfaat

irisindonesia.com - Bagi pecinta kuliner, pasti tidak asing dengan petai. Petai enak dimakan bersama dengan sambal dan lalapan, apalagi ditambah dengan ikan asin, pasti semakin menggugah selera. Namun setelah memakan petai umumnya orang sekitar bahkan diri sendiri akan terganggu dengan bau di mulut. Bau tersebut amatlah menyengat dan mencolok hidung.

Petai berbau menyengat karena terdapat beberapa zat penyebab bau tak sedap seperti hexathionine, tetrathiane, trithiolane, pentathiopane, pentathiocane dan tetrathiepane. Untuk mengatasi bau tak sedap setelah menyantap petai adalah dengan mengunyah sedikit bubuk kopi selama beberapa menit atau makan mentimun, atau dapat juga dengan merebus terlebih dahulu petai sebelum dikonsumsi.

Tanaman petai (Parkia speciosa) ternyata memiliki beragam sebutan di berbagai daerah di Indonesia. Seperti di daerah Batak Karo, masyarakat lokal setempat menyebut tanaman ini dengan sebutan Parira, berbeda dengan sebutan di daerah Batak Toba yang disebut Palia. Adapun Ambon menyebutnya dengan Pateh, di Minangkabau disebut Patai, di Lampung disebut Petar, di daerah Sunda disebut Peuteuy, di Jawa Tengah dan Jawa Timur disebut Pete, di Madura disebut Peteh, di wilayah Sumba disebut Puti dan di pulau Buru disebut Faopatu.

Tanaman petai tumbuh sekitar 90 kaki atau sekitar 30 meter. Tanaman ini melahirkan bunga yang berbentuk bohlam lampu pada akhir tangkainya yang panjang. Bunga pada tanaman ini mengeluarkan nektar (sari bunga) yang dapat menarik kelalawar dan hewan penyerbuk lain.

Dikutip dari buku Hatta Sunanto seri Budi Daya Petai menyebutkan, bunga petai termasuk bunga jenis hermafrodit, dimana bunganya mengandung benang sari dan putik secara bersama-sama. Setelah mengalami penyerbukan, seluruh benang sari akan gugur dan tinggal calon buah saja.

Jika penyerbukannya terjadi dengan sempurna maka pada setiap bunga (pendul) akan tumbuh 15-20 calon buah. Namun, apabila penyerbukannya terjadi kurang sempurna, maka pada setiap bunga hanya akan tumbuh beberapa calon buah saja. Bentuk buahnya berpolong dan berisi biji-biji yang terdiri 7 atau 8 polong. Biji tersebut agak lunak ketika masih muda, kemudian agak keras setelah menjadi tua.

Baca Juga : Sigarar Utang, Kopi Pembayar Atau Pembebas Hutang Dari Litong ni Huta

Biji buah petai segar berbau menusuk dan dilapisi kulit tipis berwarna keputih-putihan pada waktu masih muda. Namun pada waktu tua, buah akan dilapisi kulit agak gelap dan agak berlendir berwarna kekuning-kuningan, kemudian sering ditumbuhi cendawan putih. Kulit buah tanaman ini juga berwarna hijau ketika masih muda dan menjadi hitam setelah benar-benar tua.

Dalam bukunya, Sunanto menjelaskan bahwa di Pulau Jawa terdapat 2 jenis tanaman petai yaitu, tanaman petai jenis gajah dan tanaman petai jenis kacang. Pada petai jenis gajah menghasilkan buah petai yang setiap buahnya berisi petai sebanyak 15-18 biji. Panjang buahnya dapat mencapai 25-30cm. Sedangkan petai jenis kacang, menghasilkan buah petai yang setiap buahnya mengandung 10-12 biji, dengan panjang buah petai hanya sekitar 20 cm, dan ukuran bijinya lebih kecil dibandingkan dengan biji jenis Gajah.

Perlu diketahui bahwa disamping keunikannya pada bidang kuliner, petai menjadi solusi pada bidang medis, karena mengandung zat besi yang dapat mengobati anemia. Berdasarkan hasil penelitan para ahli menyatakan, orang yang mengalami gangguan penceranaan seperti konstipasi atau sambelit dianjurkan mengkonsumsi petai, karena petai mengandung banyak serat.

Biji petai juga mempunyai banyak manfaat lain, diantaranya sebagai anti hipertensi dan antidepresan. Dalam biji petai kaya akan mineral penting yaitu kalsium, fosfor, magnesium, besi, mangan, dan kalium. Namun ingat jangan terlalu banyak mengkonsumsi yah, karena apapun yang berlebihan pasti memiliki efek samping.

Penulis : Sarah R. Megumi (greeners.co)


TAG

Dipost Oleh administrator

"Batas Harianto Sidabutar"

Tinggalkan Komentar