Logo
images

Parsubang, Kearifan Lokal Batak Toba Yang Sangat Menghormati Perbedaan

irisindonesia.com - Nuansa kerukunan antar umat beragama, sangat solid dan terlihat begitu kental, utamanya di daerah Toba holbung. Semangat egaliter persaudaraan sangat terasa. Dalam keragaman terbina persatuan. Berbeda tapi saling membutuhkan. Saling melengkapi. Layaknya pelangi di awan tinggi.

Dalam keanekaan warna, justeru harus bersatu. Begitu berpisah, kuning tinggal sendiri, biru memisahkan diri, hijau entah kemana. Keindahannya akan berkurang dan lambat laun akan hilang.

Balige raja, merepresentasikan itu semuanya. Dengan penduduk yang terdiri dari berbagai etnis dan agama yang dianut. Sisi ajaran agama, tidak hanya dilihat sebagai formulasi hubungan dengan Tuhan secara vertikal. Akan tetapi, juga dimensi humanitas yang dimiliki, yaitu formulasi hubungan horizontal sesama umat manusia. Di sini, kehidupan senantiasa berlangsung tenang seperti iklimnya.

Teguh, kokoh sebagaimana puncak Dolok Tolong. Lebar luas laksana langitnya. Penduduknya sangat kuat mempertahankan adat istiadat. Adakalanya keyakinan dan adat istiadatnya itu menjulang tinggi bagaikan hendak mencakar langit, kadang-kadang bergeming ke bawah, hingga mengundang keprihatinan. Betapapun dipisahkan oleh perbedaan trilogis, secara detail harus ada pemahaman terhadap agama yang diakui di republik ini. Kerukunan umat beragama, sejatinya harus dilestarikan. Tidak pernah ada agama yang menentangnya. Dalam trilogi pembangunan, kerukunan antar umat beragama, kerukunan intern umat beragama dan kerukunan antara umat beragama dengan pemerintah saling terkait satu dengan lainnya. Apabila salah satu pincang, maka pembangunan tidak akan berjalan baik.

Titik Temu dan Titik Pisah

Lihat saja, pada sebuah pesta jamuan ataupun resepsi, di bona pasogit (sebagai : frame illustrasi). Di sini, biasa muncul istilah parsubang. Artinya, makanan yang dimasak non Islam tidak boleh dimakan orang beragama Islam. Inilah titik pisah yang tidak bisa ditawar-tawar. Namun dalam membina kerukunan umat beragama, terciptanya persaudaraan dan persahabatan semua pihak patut diupayakan. Kebersamaan harus bisa diperoleh. Maka harus dicari titik temu. Makanan yang dimasak oleh Islam, boleh dikonsumsi golongan apapun juga. Di sini, kita tidak mengenal adanya istilah parsubang. Maka di sinilah titik temu yang harus dilaksanakan.

Faktor penghambat yang menjadi relasi sosial, hingga muncul ketegangan hubungan antara umat beragama, disebabkan citra yang terbentuk lebih dulu. Khususnya terhadap kelompok penganut agama lain. Sebuah fenomena dengan stigma negatif. (Umat Islam dituduh sebagai teroris). Tidak tahu jadinya, jika relasi sosial seperti ini muncul di Tobasa. Sungguh tidak dapat digambarkan, bagaimana nasibnya umat Islam. Syukur hal itu tidak pernah terjadi.

Perjalanan kehidupan sosial antar umat beragama, hampir kering aktivitas dialog. Kenyataan yang dijumpai (disadari atau tidak), sebatas memandang yang satu menjadi ancaman bagi yang lain. Lalu, akan muncul kesan keterancaman pihak minioritas terhadap mayoritas. Padahal, terminologi mayoritas dan minioritas seharusnya lebih dipahami. Jangan sekedar mitos statistic belaka. Kenyataannya sering sarat dengan muatan yang menghambat pembangunan.

Masyarakat Tobasa, pada garis besarnya didominasi etnis Batak Toba. Kemudian bertambah etnis pendatang, seperti Mandailing, Minang, Jawa, Nias dan lainnya. Agama yang dianut, umumnya Kristen, Katolik dan Islam. Berdasarkan keragaman etnis dan agama, (sangat berpotensi menciptakan pertentangan). Memudahkan provokator menyelusup. Karenanya, menjadi penting untuk meningkatkan kembali semangat para nenek moyang/foulding father yang dirumuskan tempo doeloe. Meski berbeda tetap satu. Bhinneka Tunggal Ika.

Kondisi demikian, merupakan barang berharga di Tobasa bumi dalihan na tolu. Dipraktekkan secara simultan, dengan mengajarkan masyarakat, arti pentingnya toleransi beragama. Hidup berdampingan, rukun damai dalam suasana semangat kekompakan.

Faktor penghambat kerukunan umat beragama, termasuk di dalamnya, pemahaman ajaran agama yang dianut, serta relasi sosial yang tidak harmonis. Ini membentuk kesadaran individual seseorang, yang pada akhirnya menghasilkan peta budaya konflik dalam masyarakat. Apabila semakin mengkristal, bisa mengakibatkan bertambah kerasnya bentuk sikap konflik, sehingga berpotensi memunculkan pembelaan atas nama agama.

Bergulirnya era globalisasi, menimbulkan perobahan pesat di segala aspek kehidupan masyarakat (contoh kecil, di bona pasogit). Hal ini bisa berdampak besar pada sektor sosial ekonomi dan budaya. Bahkan, mungkin bisa berakibat adanya dekadensi moral di kalangan generasi muda. Lalu kemudian, dapat berpotensi menimbulkan kesenjangan. Baik melalui informasi dan komunikasi di kalangan masyarakat, di samping ketidaksiapan menghadapi setiap perobahan. Hal seperti itu dapat terjadi, akibat keterbatasan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), sarana dan prasarana di suatu daerah.

Pemahaman yang berpangkal dari ketertutupan pengertian keagamaan, hingga selalu memandang rendah agama lain. Tidak mengandung nilai positif. Padahal, bukankah setiap ajaran agama sudah sedemikian lama menjadi anutan umat manusia? Mengandung sesuatu yang indah bagi penganutnya sendiri. Di samping itu, masing-masing ajaran khususnya agama samawi, memiliki persinggungan antara yang satu dan lainnya. Terutama, Islam dan Kristen.

Di Tobasa, kerukunan antar umat beragama terlihat sangat solid. Selalu marsiamin aminan dan marsitungkol tungkolan. Songon suhat di robean. Belum pernah terjadi konflik antar agama. Jika perpaduan ruhut, raksa, dohot risa dari ajaran budaya batak serta pengejawantahan filosofi dalihan na tolu dipahamkan, niscaya tidak akan pernah terlihat adanya perseteruan. Hal ini sangat membanggakan sekaligus membahagiakan. Perahu besar Tobasa yang dinakhodai Drs. Monang Sitorus, SH, MBA yang nota bene adalah seorang sintua parhalado mampu menjalin persahabatan erat dengan tokoh dan sesepuh umat beragama lain.

Biasanya, karena pemahaman yang minim, sehingga tidak dapat membedakan mana titik temu dan mana titik pisah. Kalau ada titik temu, kenapa harus dicari titik pisah. Dan kalau sudah jelas titik pisah kenapa harus ditempuh titik temu. (Makanya, pada setiap pesta, muncul istilah parsubang). Untuk itu, agama jangan dijadikan kuda tunggangan politik, ekonomi atau budaya. Karena begitu agama berhasil dijadikan sebagai kuda tunggangan, maka pada saat itulah pesan-pesan agama akan menjadi mandul.

BERBEDA DAN TETAPLAH BERDAMAI. Salam IRIS INDONESIA!

Penulis : Imran Napitupulu


TAG

Dipost Oleh administrator

"Batas Harianto Sidabutar"

Tinggalkan Komentar