Logo
images

Foto : forumhijau.com dan Relawan Bandung

Nafsu Politik dan Eksploitasi Pohon

irisindonesia.com - Sangat miris ketika melihat foto kandidat calon pemimpin daerah yang terpasang di pohon-pohon. Ini memperlihatkan betapa miskinnya wawasan lingkungan hidup sang kandidat dan tim kampanyenya. Banyaknya partai politik berkampanye dengan merusak pepohonan. Banyak Pohon yang kini sudah beralih fungsi.

Pohon yang sedianya sebagai buffer, sekarang menjadi media kampanye partai partai politik. Sudah seharusnya pihak yang berwenang menindak tegas hal ini. Kampanye para calon kepala daerah menjelang Pilkada ternyata masih tidak bersahabat dengan lingkungan. Buktinya, pohon masih dijadikan tempat untuk memajang alat peraga para calon.

Baca Juga : Atasi Masalah Sampah, Pemerintah Daerah Diminta Kreatif dan Inovatif

Pasca bergulirnya era reformasi Indonesia mengalami banyak perubahan. Salah satunya perubahan dalam sistem politik. Sistem pemilu yang pada masa orde baru menganut sistem proporsional tertutup, kini menjadi sistem proporsional terbuka. Presiden dan wakil presiden yang asalnya dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) kini dipilih langsung oleh rakyat. Begitupun Gubernur, Walikota, dan Bupati dan yang asalnya dipilih oleh DPRD, kini juga dipilih langsung oleh rakyat.

Perubahan sistem pemilu tersebut mendorong setiap calon anggota legislatif (caleg), pasangan calon presiden-wakil presiden, dan calon kepala daerah-wakil kepala daerah harus memperkenalkan diri kepada masyarakat. Salah satu cara yang digunakan oleh mereka adalah dengan memasang fotonya di pohon. Pohon-pohon yang berada di pinggir jalan raya hampir tidak ada yang tidak dipasangi foto-foto politisi utamanya menjelang pilkada dan pemilu. Sudah berapa banyak paku yang menancap pada pohon-pohon tersebut?

Andaikan pohon-pohon tersebut bisa bicara, tentu mereka akan mengerang kesakitan karena terus ditancapi paku dan berharap agar perbuatan itu segera dihentikan. Paku yang masuk ke dalam pohon yang masih hidup tentu merusak kulit dan daging pohon. Belum lagi paku itu akan berkarat dan beracun. Tentunya akan menganggu pertumbuhan pohon. jelang pemilu, pada satu pohon bisa terpasang lebih dari satu foto caleg. 

Jika satu foto ditancapi dua paku, maka ada sepuluh paku yang menancap pada pohon tersebut. Itu baru satu pohon, hal itu tidak tertutup kemungkinan terjadi pada jutaan pohon lainnya di Indonesia. Pemilu sudah menyebabkan eksploitasi pohon secara masif dan sadar. Dengan memasang foto-foto kampanye di pohon, para politisi telah telah menyiksa pohon dan membuatnya mati pelan-pelan padahal semua tahu bahwa pohon banyak manfaatnya.

Pohon menyerap karbondioksida dan mengeluarkan oksigen yang sangat bermanfaat bagi kehidupan. Akar-akarnya yang kokoh akan mampu menyimpan air dan mencegah banjir. Pohon telah membuat udara menjadi sejuk dan telah membuat pemandangan yang indah. Indonesia pernah dijuluki “zamrud khatulistiwa” karena hutannya yang sangat lebat. Bahkan hutan di Indonesia disebut sebagai paru-paru dunia. Tapi sekarang malang nian nasib pohon di Indonesia. Pohon-pohon di hutan sudah banyak dirusak melalui pembalakan liar (illegal logging).

PBB melaporkan bahwa kerusakan hutan di Indonesia sudah masuk pada tahap yang sangat mengkhawatirkan. Tahun 2000 hingga 2005 hutan di Sumatera dan Kalimantan rusak 5,1 Km per hari sehingga tahun 2022 diprediksikan akan hilang. Hutan yang gundul telah banyak menyebabkan bencana alam seperti longsor, banjir bandang, dan kekeringan karena hutan sudah tidak mampu lagi menjadi tempat cadangan air.

Baca Juga : Kepedulian Generasi Muda Terhadap Kelestarian Lingkungan, Alam Dan Manusia Disekitarnya

Ketika pohon-pohon di hutan sudah banyak rusak, saat ini pohon-pohon di pinggir jalan sudah banyak yang rusak juga. Memang tidak ditebang, tapi mereka dipaku demi sebuah ambisi politik. Foto-foto calon kepala daerah, caleg yang terpasang pada pohon tersebut selain telah merusak pohon juga telah membuat pemandangan jadi semrawut.

Setelah pemilu dan pilkada, foto-foto yang menempel di pohon tersebut tidak dicabut kembali, dibiarkan begitu sampai lapuk, rusak, atau sobek. Pemilu dan Pilkada telah menyebabkan banyaknya sampah visual dan sampah ekologis karena rata-rata foro-foto itu terbuat dari plastik yang sulit hancur dalam waktu singkat. Dan walau pun dibakar tidak bisa terurai dalam tanah. Hal ini tentunya akan menyebabkan masalah baru yaitu pencemaran tanah.

Dalam rangka menyelamatkan pohon dan menjaga kebersihan lingkungan seharusnya para caleg dan calon kepala daerah tidak memasang alat peraga kampanye (APK) di pohon. Masih banyak tempat lain yang bisa digunakan untuk memasang APK.

Pemasangannya harus sesuai dengan peraturan yang ada dan tidak merusak lingkungan. Adalah hal yang kontradiktif ketika mereka mengklaim pro penghijauan dan penyelamatan lingkungan tetapi di sisi lain mereka merusak pohon.

Referensi : Kang Idris Apandi


TAG

Dipost Oleh administrator

"Batas Harianto Sidabutar"

Tinggalkan Komentar