Logo
images

Mengapa Petani Indonesia Miskin

irisindonesia.com - Hingga hari ini, sebagian besar petani di Indonesia yang berjumlah 26 juta rumah tangga, masih hidup di bawah garis kemiskinan. Data Badan Pusat Statistik menyebut, tahun 2016 lalu sebesar 14 persen penduduk miskin berada di wilayah pedesaan yang sebagian besar mengandalkan ekonominya dari sektor pertanian.

Menteri Perencanaan Pembangunan (PPN) atau Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro kepada sejumlah wartawan di Jakarta awal November lalu menyebutkan, rendahnya kepemilikan lahan adalah salahsatu penyebab para petani tak pernah bisa hidup makmur. Hingga saat ini para petani di Indonesia rata-rata hanya memiliki lahan kurang dari setengah hektar. Terutama para petani di Pulau Jawa. “Kondisi ini menyebabkan petani sulit untuk mengusahakan lahan itu sendiri pada tingkat yang menguntungkan,” kata Bambang.

Baca Juga : Kehidupan Di Desa

Masalah lainnya adalah karena sebagian besar petani belum memiliki ketrampilan pertanian yang mumpuni. Sebabnya, karena sebagian besar petani berpendidikan rendah. Keterbatasan ketrampilan, pendapatan yang rendah dan pendidikan yang kurang memadai itu membuat para petani kesulitan mengadopsi teknologi pertanian yang baru. Padahal perkembangan dunia pertanian sekarang ini sangat tergantung dengan penguasaan teknologi.

Bambang mencontohkan para petani di Australia. Berbeda dengan Indonesia yang sebagian besar petaninya hidup di bawah kemiskinan. Di Australia, petani justru digolongkan sebagai kalangan orang kaya. Soalnya rata-rata petani di Indonesia memiliki lahan yang luas dan sudah menggunakan teknologi modern dalam menjalankan pertaniannya. Berkat penerapan teknologi modern, sistem pertanian di sana menjadi jauh lebih efisien dan hasilnya jauh lebih maksimal bagi kesejahteraan petani.

Maka, menurut Bambang, paradigma pertanian di Indonesia harus digeser. Bukan lagi pada produksi pangan dan berbagai program subsidi seperti pupuk, melainkan lebih pada orientasi mensejahterakan petani. Salahsatunya dengan menggalakkan pola Agribisnis yang mampu menciptakan kesejahteraan lebih baik bagi petani.

Mengenai masalah kemiskinan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengungkapkan, salahsatu tingginya angka kemiskinan disebabkan karena masih kurangnya infrastruktur di daerah pedesaan. Seperti kasus kemiskinan yang terjadi di wilayah pantai selatan Sukabumi hingga Banten.

Baca Juga : Minat Generasi Muda Terjun ke Pertanian Bertambah

Sepanjang pantai selatan Sukabumi dan Banten memang wilayah yang sebagian warganya masih berada di bawah garis kemiskinan Kurangnya infratruktur menyebabkan Potensi komoditas desa yang tinggi dan bisa mendorong peningkatan kesejahteraan warga menjadi tidak bisa berkutik karena kurangnya sarana. Seperti di daerah Sukabumi, banyak desa yang tak bisa mengirimkan produknya untuk dijual ke kota karena sarana jalan raya yang kurang memadai.

Saat ini pemerintah sedang memfokuskan diri meningkatkan kesejahteraan warga terutama pedesaan sehingga mengurangi kemiskinan. Langkah itu bukan hanya dilakukan satu kementerian saja melainkan melibatkan berbagai kementerian yang memiliki program yang sama seperti Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Kementerian UMKM dan Koperasi dan berbagai institusi lainnya.

(dji/berdesa)


TAG

Dipost Oleh administrator

"Batas Harianto Sidabutar"

Tinggalkan Komentar