Logo
images

Kartini Dan Perempuan Indonesia

irisindonesia.com - Setiap tanggal 21 April, masyarakat Indonesia merayakannya sebagai Hari Kartini (mengacu pada hari kelahiran R.A Kartini). Perayaan itu bertujuan untuk mengingat jasa perjuangan Kartini sebagai pejuang kemerdekaan dan emansipator perempuan. Melalui pena dan kertas, Kartini menulis surat-surat berisi cita-cita politiknya, tentang kesetaraan perempuan yang dikekang oleh budaya feodalisme tradisional Jawa dan juga kolonialisme.

Sikap yang ditujukan Kartini pada poriede dimana perempuan ditempatkan secara tersubordinat seperti sebagai kanca wingking dengan tugas hanya sebatas macak, masak, dan manak (bersolek diri, memasak, dan melahirkan) merupakan sikap yang progresif dan radikal. Kartini tak hanya sebatas kebaya dan seremoni.

Kartini adalah hak perempuan, perjuangan kesetaraan gender, dan nasionalisme Indonesia di akhir abad ke-19. Kartini, seorang ningrat Jawa yang mendobrak kungkungan adat melalui pikiran-pikirannya. Ia hanya dikenal dan dikenang sebagai pahlawan emansipasi wanita. Soal apa persisnya pikiran-pikiran itu dan bagaimana Kartini merumuskannya tak pernah benar-benar di ungkap kecuali untuk mereka yang berinisiatif mencari tahu sendiri. Selama ini bukan tak ada usaha untuk terus menerus menyiarkan “gelap dan terang” kehidupan Kartini. Sejumlah artikel dan buku telah ditulis.

Baca Juga : Berterimakasihlah Pada Kaum Perempuan, 60 Persen UKM Indonesia Dijalankan Mereka

Bahkan, pada 2003 kelompok musik bernama Discus menerbitkan komposisi mini epik berjudul Verso Kartini. Tapi, rekonstruksi dan hakikat perjuangan Kartini tetap terabaikan. Setiap kali hari lahir Kartini diperingati, 21 April, yang dilakukan itu-itu saja: para perempuan menempuh kerepotan berbusana tradisional, serangkaian pidato diucapkan, orang-orang berefleksi dalam forum-forum diskusi atau menggelar bakti sosial, tapi sesudahnya hidup tak berubah sedikit pun. Kartini adalah pemikir feminisme awal di Indonesia.

Dia perempuan yang gagasan-gagasannya mencerahkan dan mengilhami kalangan yang lebih luas. Ia memang aktivis pemikir yang jatuh bangun. Lahir dari keluarga bangsawan, Kartini menolak poligami tetapi menjadi korban tradisi itu. Ia dijodohkan dengan Bupati Rembang, Adipati Djojoaningrat, lelaki dengan tiga selir dan tujuh anak. Setelah masa pingitan, Kartini membantu para pengukir Jepara dengan menciptakan motif macan kurung dan motif pahatan kayu yang masih bertahan hingga kini. Ia menghubungi perkumpulan Oost en West untuk menghidupkan kerajinan tangan hindia belanda.

Bahkan, perkumpulan itu beberapa kali menggelar pameran kerajinan dan menarik perhatian publik di Nederland. Namun seiring berjalannya waktu, perayaan Hari Kartini menyimpan keironisan. Perayaan itu dimaknai sebatas formalitas dengan mengabaikan cita-cita besar pahlawan perempuan Indonesia ini. Perempuan-perempuan Indonesia dalam perayaan Hari Kartini ditekankan untuk memakai pakaian adat seperti kebaya dan mempercantik diri agar terlihat memukau. Perempuan dijadikan objek dengan penilaian dari penampilannya, bukan dari pemikiran ataupun karakter mereka.

Itu jelas sangat jauh sekali dari apa yang seharusnya dirayakan. Meskipun begitu, Kartini tetap menjadi sosok yang fenomenal bagi aktivis dan perempuan di masa ini. Artikulasi terhadap perjuangan Kartini pun mulai direproduksi menjadi identitas perjuangan rakyat menentang ketidakadilan. Seperti yang dilakukan oleh para perempuan dari Pegunungan Kendeng yang berjuang menentang ekspansi pabrik semen. Para petani perempuan itu bahkan rela memasung kaki mereka dengan semen untuk memperjuangkan masa depan ruang hidup mereka. Petani-petani perempuan tersebut mengartikulasikan identitas politik mereka sebagai ‘Kartini Kendeng’.

Perempuan Indonesia masa kini perlulah pandai bersyukur karena terlahir ketika bangsa Indonesia sudah mulai mengakui adanya kesetaraan gender. Pada masa kini, perempuan Indonesia sudah bebas mengenyam pendidikan hingga jenjang yang paling tinggi. Laki-laki bergelar profesor ada banyak, perempuan bergelar profesor pun juga tidak kalah banyak. Selain itu, perempuan Indonesia juga sudah bebas memiliki pekerjaan di luar rumah, sekali pun stereotip perempuan sebagai pengurus rumah tangga masih melekat hingga saat ini. Sekarang tidak hanya laki-laki yang dapat bekerja di luar rumah, perempuan Indonesia pun bisa menjadi karyawan suatu perusahaan hingga pemimpin suatu pemerintahan. Sementara pada masa lalu, kedua hal itu sulit untuk diperoleh oleh perempuan Indonesia.

Kartini, Perempuan Indonesia, Dulu dan Kini.

Pada masa lalu, pendidikan menjadi suatu hal yang tabu bagi mayoritas perempuan Indonesia. Hanya perempuan dari keluarga terhomat atau keturunan ningrat saja yang mungkin mengenyam pendidikan. Meskipun begitu, mereka belum tentu dapat mengenyam pendidikan hingga jenjang yang paling tinggi. Pendidikan saja dibatasi, apalagi pekerjaan. Pada masa lalu, perempuan Indonesia sangatlah dilarang untuk memiliki pekerjaan di luar rumah.

Bahkan, ada tradisi yang mengharamkan perempuan “berkeliaran” di luar rumah. Mereka haruslah dipingit di dalam rumah dan melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah, seperti memasak, mencuci, dan membersihkan rumah. Tradisi tersebut ada karena masyarakat pada masa itu berpikir bahwa kodrat perempuan adalah sebagai istri yang mengurus urusan rumah tangga, padahal berdasarkan teori mengenai gender, hal tersebut bukanlah kodrat perempuan.

Apa yang terjadi pada perempuan Indonesia di masa itu berbanding terbalik dengan kaum laki-lakinya. Laki-laki justru memiliki kebebasan untuk mendapatkan pendidikan hingga jenjang yang paling tinggi. Mereka pun dapat dengan bebas berkegiatan di luar rumah. Dapatlah dikatakan bahwa pada masa itu pendidikan dan pekerjaan di luar rumah merupakan haknya laki-laki. Kesenjangan yang demikian dirasakan oleh sosok perempuan Jawa keturunan ningrat bernama R.A. Kartini yang lahir pada 21 April 1879. Ialah anak dari Bupati Jepara, R.M. Adipati Ario Sosroningrat. Ia hidup dalam lingkungan keluarga yang terbilang memiliki pemikiran maju, tetapi tetap mempertahankan tradisi.

Pemikiran maju ini ditunjukkan dengan diperbolehkannya setiap anak perempuan di keluarga itu untuk menuntut ilmu di sekolah-sekolah Eropa. Sementara, kebanyakan keluarga pada masa itu tidak memperbolehkan anak perempuan untuk bersekolah. Oleh karena itu, semasa hidupnya Kartini memperoleh kesempatan untuk mendapatkan pendidikan di sekolah Eropa. Hanya saja ia tidak dapat mengenyam pendidikan hingga jenjang yang paling tinggi. Hal tersebut terjadi karena orang tuanya memingit Kartini ketika perempuan itu berumur 12 tahun. Tradisi pingit merupakan tradisi yang masih dipegang teguh oleh keluarganya. Sementara saudara-saudara laki-lakinya tidak diperlakukan demikian.

Semua anak laki-laki dalam keluarga itu dapat mengenyam pendidikan hingga jenjang yang tinggi dan kelak setelah menuntaskan sekolah, anak laki-laki dapat melakukan berbagai pekerjaan di luar rumah. Para anak perempuan di keluarga itu tidak mendapatkan perlakuan yang demikian. Kelak ketika sudah memasuki usia nikah, anak-anak perempuan akan dijodohkan dengan seorang laki-laki oleh orang tuanya. Melihat kesenjangan yang terjadi di sekelilingnya membuat Kartini “memberontak” melalui surat-surat yang ia kirimkan kepada para kerabatnya. Surat-surat yang berisikan pemikirannya itu dibukukan dalam Door Duistermis tox Licht (1911) oleh Mr. J.H. Abendanon. Kemudian oleh Armijn Pane buku tersebut diterjemahkan dalam Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran (1922).

Dalam surat-suratnya itu tidak jarang Kartini menyuarakan keinginannya untuk dapat memperoleh pendidikan tinggi. Baginya pendidikan itu sangatlah penting dan tidak hanya diperuntukkan bagi kaum laki-laki saja. Kaum perempuan pun berhak untuk mengenyam pendidikan hingga jenjang yang tinggi. Dalam surat-suratnya, ia juga mengutarakan ketidaksetujuannya pada tradisi pingit. Ia tidak setuju dengan tradisi yang mengharuskan perempuan berada di rumah dan mengurus urusan rumah tangga saja.

Melalui surat-suratnya, ia berharap bahwa kelak di negerinya kaum perempuan diperbolehkan untuk bersekolah hingga jenjang yang tinggi dan dapat berkegiatan di luar rumah. Baginya, dengan memiliki pendidikan tinggi, ketika seorang perempuan menjadi seorang istri, ia akan bisa mengurus rumah tangga dan mendidik anak dengan baik. Pada masanya, Kartini pun mendirikan sekolah yang diperuntukkan bagi perempuan Indonesia masa itu sebagai perwujudan dari cita-citanya.

Baca Juga : Ketika Suku-Suku di Papua Berupaya Mempertahankan Tanah Adat Mereka

Cita-cita dan usaha yang dilakukan oleh R.A. Kartini semasa hidupnya dalam memperjuangkan hak perempuan merupakan bentuk dari gerakan emansipasi wanita yang menginginkan adanya kesetaraan gender antara perempuan dengan laki-laki. Hal tersebut membuatnya dijadikan sebagai ikon dari gerakan emansipasi wanita di Indonesia sejak pemerintahan Soekarno. Tanggal lahirnya pun, yakni 21 April, diperingati sebagai Hari Kartini. Adapun keinginan adanya kesetaraan gender pada masa lalu tidak hanya disuarakan oleh R.A. Kartini saja.

Ada banyak perempuan Indonesia lain yang juga melakukan hal yang sama. Salah satunya adalah R. Dewi Sartika. Sebagaimana dirasakan oleh Kartini, Dewi Sartika pun merasakan adanya kesenjangan sosial di lingkungan ia berada. Perempuan Indonesia pada masanya tidak mendapatkan kesempatan memperoleh pendidikan sebagaimana kaum laki-laki. Oleh karena itu, demi memberikan kesempatan bagi perempuan Indonesia untuk memperoleh pendidikan, Dewi Sartika pun membangun sekolah khusus kaum perempuan. Beruntunglah perempuan Indonesia masa kini.

Dengan hadirnya sosok, seperti R.A. Kartini dan R. Dewi Sartika yang menyuarakan kesetaraan gender, perempuan Indonesia masa kini dapat memiliki kehidupan yang lebih baik dibandingkan dengan perempuan Indonesia di masa lalu. Mayoritas perempuan Indonesia masa kini tidak lagi terkukung tradisi yang justru jika terus dipertahankan akan membuat perempuan Indonesia menjadi manusia-manusia terbelakang yang tidak dapat turut serta dalam membangun bangsa dan negara.

Oleh karena itu, sudah seharusnya perempuan Indonesia tidak menyia-nyiakan hasil dari perjuangan perempuan Indonesia pada masa lalu yang menginginkan perempuan Indonesia dapat memperoleh pendidikan hingga jenjang yang paling tinggi dan dapat berkegiatan di luar rumah.

Referensi : Dari berbagai sumber


TAG

Dipost Oleh administrator

"IRIS INDONESIA"

Tinggalkan Komentar