Logo
images

GANHA BALI Dan Aon Gunung Agung. Rasa Hormat Serta Kepedulian Akan Alam

irisindonesia.com - Gunung Agung adalah gunung tertinggi di pulau Bali dengan ketinggian 3.031 mdpl. Gunung ini terletak di kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, Indonesia. Pura Besakih, yang merupakan salah satu Pura terpenting di Bali, terletak di lereng gunung ini.

Gunung Agung adalah gunung berapi tipe stratovolcano, gunung ini memiliki kawah yang sangat besar dan sangat dalam yang kadang-kadang mengeluarkan asap dan uap air. Dari Pura Besakih gunung ini nampak dengan kerucut runcing sempurna, tetapi sebenarnya puncak gunung ini memanjang dan berakhir pada kawah yang melingkar dan lebar.

Baca Juga : Kepedulian Generasi Muda Terhadap Kelestarian Lingkungan, Alam Dan Manusia Disekitarnya

Beberapa waktu yang lalu Gunung Agung kembali erupsi mengeluarkan asap berwarna kelabu kehitaman dengan intensitas tebal bertekanan sedang. Ketinggian kolom 2,5 kilometer dari puncak kawah. Erupsi dengan amplitudo 27 milimeter diikuti gempa selama 130 detik. Asap condong ke arah utara hingga timur laut.

Bagi masyarakat Bali terutama para pemeluk agama Hindu, Gunung Agung merupakan Istana Dewa yang sangat mereka hormati, Dewa tersebut adalah Siwa. Keberadaan Gunung Agung begitu banyak memberi berkah bagi masyarakat sekitar, baik itu pertanian, material seperti pasir dan batu, pariwisata dan lainnya.

Bencana atas Gunung Agung membuat masyarakat sekitar merasakan dampak yang cukup buruk, dan menginspirasi sekelompok anak muda Bali yang menamakan dirinya GANHA BALI (Gema Ethnic Harmoni BALI), yang dipelopori oleh; Ketut Daweg, Gung Wah, Yance Rock dan Adit Dita. Mereka memang sudah lama dan sering membuat sebuah Instrumen dari Musik Tradisional.

Salah satu Instrumen Musik yang mereka ciptakan adalah berjudul "AON AGUNG", yang berarti Debu Vulkanik Gunung Agung. Ide membuat Instrumen tersebut muncul ketika debu vulkanik yang menyelimuti Bali, dan sebagai perwujudan rasa hormat serta kepedulian akan Alam dan Lingkungan khususnya Gunung Agung.

Ketut Daweg mengatakan dalam Instrumen "Aon Agung" tersebut, ada pesan yang ingin disampaikan bahwasanya dibalik bencana pasti ada hikmah dan harapan yang baik, begitu juga dengan doa agar Dewa yang beristana di Gunung Agung menjauhkan masyarakat Bali dari marabahaya.

"Dengan adanya bencana alam yang sering terjadi akhir akhir ini manusia hendaknya menyadari bahwa ia tidak bisa hidup tanpa lingkungan. Manusia harus sadar bahwa dia membutuhkan lingkungan dan bukan lingkungan yang membutuhkannya." katanya dalam keterangan tertulis kepada irisindonesia.com

Baca Juga : Nafsu Politik dan Eksploitasi Pohon

Contohnya saja manusia membutuhkan air, bukan sebaliknya alam (air) yang membutuhkan manusia. Manusia membutuhkan pohon, bukan pohon yang membutuhkan manusia. Bila tidak ada air, manusia akan menderita dan bisa mati, namun sebaliknya, bila tidak ada manusia tidak ada pengaruh terhadap air, pohon atau lingkungan.

"Karena itu, yang menderita akibat rusaknya lingkungan adalah manusia itu sendiri. Jadi manusia yang perlu diperbaiki bukan lingkungannya, untuk itu yang paling penting dilakukan adalah “menyadarkan manusia” agar mengetahui bahwa dia tidak bisa hidup tanpa lingkungannya." kata Ketut Daweg


TAG

Dipost Oleh administrator

"Batas Harianto Sidabutar"

Tinggalkan Komentar