Logo
images

Demianus Klembiak, Tete Embun yang sering masuk keluar hutan Cyclops. Foto: Agus Kalalu

Belajar Menjaga Hutan dari Demianus Klembiak, Si Embun dari Cyclops

irisindonesia.com - Perawakannya kecil. Berjalan sedikit membungkuk. Namun kedua kakinya terus melangkah menelusuri hutan. Tak sedikit pun rasa lelah terpancar dari wajahnya. Sesekali ia melepas canda, bahkan bercerita mop, cerita lucu khas Papua. Lantas tertawa lepas. Perjalanan masuk hutan semakin terhibur dengan kehadirannya.

Nama lelaki itu Demianus Klembiak, lahir 12 Desember 1954. Demianus hapal betul seluk beluk hutan pegunungan Cyclops, terutama yang ada di wilayah masyarakat adat Moy, di sebelah barat Sentani, Kabupaten Jayapura.

Namun sebenarnya tak begitu banyak orang kenal nama lengkapnya itu.

“Orang panggil saya Embun. Embun Cyclops atau Tete Embun. Kalau sebut nama lengkap atau nama asli, mungkin orang tidak kenal,” katanya.

Tete adalah sebutan lain untuk kakek. Merujuk pada usianya yang sudah tua, yang mulai mendekati senja. Namun jika menelusuri hutan, Tete Embun sangat bersemangat bahkan mampu melampaui semangat anak muda.

“Tete pertama kali menjaga Cyclops tahun 1987. Tete keluar masuk hutan ini. Kami ada lima orang ketika itu, termasuk dengan Tete Amos Ondi,” ujar Tete Embun.

Baca Juga : Pemerintah Diminta Serius Masukkan Kearifan Lokal Jaga Hutan dalam Revisi UU Konservasi

Ia lalu bercerita. Pertama kali menjaga Cyclops pada saat melakukan survey di hutan untuk memetakan wilayah ulayat. Untuk wilayah hutan adat suku marga Klembiak, Tete Embun menandainya dengan cara menanam bunga puring. Sementara hutan adat milik Amos Ondi, Ondoafi (kepala suku) di Kampung Sereh Distrik Sentani, ditandai dengan cara membuat pal batas dari semen.

Di masyarakat adat Moy sendiri ada lima marga yang memiliki hak ulayat hingga berada dalam cagar alam Cyclops, termasuk marga Klembiak.

“Jadi kalau ada yang melihat bunga puring di hutan ini sampai Cyclops, maka itu tandanya batas wilayah adat marga Klembiak,” ungkap Tete Embun.

Prihatin Cyclops Semakin Rusak

Saat beristirahat di hutan, Tete Embun selalu mengambil bekal yang berada di tas punggungnya. Selain air, bekal yang wajib dibawanya adalah pinang, sirih, dan kapur. Ia lalu mengunyah makanan adat yang kini masih bertahan di Papua itu. Serta tak lupa ia menyulut api pada sebatang rokok dan menghisapnya.

“Hutan Cyclops tidak seperti dulu lagi,” katanya.

Menurutnya, laju pembangunan ikut menjadi penyumbang terbesar dalam perusakan hutan Cyclops. Kebijakan itu datang baik dari pemerintahan tingkat kabupaten, tingkat kota, hingga provinsi. Selain itu pembukaan kampung transmigrasi sejak Trikora pada tahun 1963-1964 turut serta memberikan andil.

“Dan juga keluarga kita yang pendatang dari wilayah pegunungan. Mereka ikut membuka hutan dengan cara berkebun.”

Menurut Tete Embun, semua itu bermula dari salah satu kepala suku yang memberikan ruang kepada pendatang dari pegunungan, seperti dari Kabupaten Jayawijaya, Lani Jaya, Tolikara, Yahukimo untuk membangun kampung. Dari situ semakin hari semakin banyak pendatang yang masuk ke dalam hutan Cyclops dan membuat lahan.

“Jadi kepala suku beri satu, kemudian jadi sepuluh, lalu menjadi seratus, jadi seribu, dan seterusnya,” ujar Tete Embun beranalogi.

Ia juga mengaku pernah selama tujuh bulan tinggal di Jakarta, dan melihat bagaimana warga Betawi semakin terpinggirkan. Berkaca dari kejadian seperti itu, katanya, ia tak pernah menjual tanah kepada siapapun yang datang menawarinya, bahkan dengan tawaran harga yang menggiurkan.

Sebab menurutnya, anak dan cucunya yang akan menderita jika tanah di jual. Selain itu, sesuai dengan pesan leluhur, tanah bagi masyarakat adat Moy adalah ibu.

“Jadi kalau menjual tanah, sama halnya dengan menjual ibu. Tapi ada juga beberapa orang di sini tidak lagi mendengar pesan leluhur. Mereka tergiur dan menjual tanah.”

Bahkan suatu ketika, salah seorang petinggi di Kabupaten Jayapura pernah mendatanginya. Pejabat tinggi tersebut berharap bisa membeli salah satu tanahnya karena disitu terdapat mata air yang cocok untuk dijadikan sebagai bisnis air kemasan. Namun Tete Embun tetap bersikeras dengan pendiriannya untuk tidak menjual tanahnya.

“Justru air di Cyclops yang kita jaga. Semua butuh air. Cyclops yang memberikan air kepada manusia di sini. Saya tidak tergiur dengan uang.”

Menurutnya, wilayah ulayat suku marga Klembiak yang tersebar di beberapa tempat, baik di luar kawasan dan di dalam kawasan Cyclops, luasnya diperkirakan sebesar 15 ribu hektar. Tete Embun menanam berbagai macam jenis tanaman. Mulai dari sagu, kopi, pinang, hingga kelapa.

“Marga kami makin lama makin berkembang. Hanya tanah ini yang bisa diwariskan ke anak dan cucu. Tidak bisa dijual.”

Di balik nama Embun Cyclops

Jika ada yang melakukan penelitian di Cyclops, khususnya untuk wilayah masyarakat adat Moy, nama Tete Embun selalu disebut. Ia biasanya menjadi pendamping bagi para peneliti. Tidak hanya dalam negeri, tapi juga luar negeri. Ia menyebut peneliti dari negara Dominika, Australia, Jerman, hingga Jepang yang pernah didampingi.

Tete Embun selalu menjadi tempat bertanya jika ada warga yang tidak mampu menjawab pertanyaan para peneliti. Ia akan memberikan semua jawaban dengan bahasa adat Moy. Mulai dari tumbuhan merambat, nama-nama pohon, nama sungai, tempat terlarang, atau nama burung,

Begitupun dengan pemberian nama Embun pada dirinya. Ia mengaku tak ada makna yang berarti filosofis pada nama tersebut. Pemberian nama itu justru terjadi begitu saja secara tiba-tiba ketika mendampingi salah seorang dari Jerman di dalam hutan pegunungan Cyclops.

“Ketika itu pada tahun 1988 saat di puncak. Orang Jerman yang saya dampingi ini lensa softlens-nya jatuh di daun. Lalu tiba-tiba dia memanggil embun berulang kali ke arah saya yang berada di bawah. Saya lihat kiri kanan tidak ada orang. Ternyata dia memanggil saya dengan nama Embun. Nah, sejak saat itulah nama saya terkenal dipanggil Embun,” katanya dengan tertawa.

Hingga saat ini Tete Embun masih sering melakukan patroli di dalam kawasan hutan Cyclops. Ia melakukannya minimal sebulan sekali. Ia mengaku senang berada dalam hutan. Karena di sana ia bisa melihat ikan-ikan di sungai, melihat kebun sagunya, hingga mendatangi gua dan menjaga tempat keramat.

“Cyclops ini ada penghuninya. Jadi kita harus jaga dia.”

Sumber : Mongabay Indonesia


TAG

Dipost Oleh administrator

"Batas Harianto Sidabutar"

1 Komentar

Tinggalkan Komentar